Sep 18, 2016

EAR[81]+EAR[82] - Detroak - CP/D.B-3 + VA - Split - Kultivasi & Trio En Rio (2016)


Album ini (mungkin) adalah sebuah awal dari Detroak. Lekuk-lekuk suaranya minimalis, menggabungkan model bunyi yang gelap dan rendah, dan beberapa titik kejut distorsi dalam lagu-lagunya. Mengapa minimalis? Karena, terasa sekali bahwa produksi bunyi ini dibuat menggunakan perangkat lunak yang rumus algoritmanya mampu mengakomodasi pembuatan bunyi. Tidak layak untuk dihakimi, namun sangat layak untuk dikisahkan, hal-hal kecil seperti ini. Banyak hal yang dapat kita nantikan dari semangat yang tertuang dalam kompilasi melalui album debut ciptaan Tanaya ini. Selamat mendengarkan.



Demi segala kepuasan dalam kegemaran mendengarkan segala jenis musik. Juga, demi segala bentuk semangat yang tercurahkan dalam tiap penciptaan kebaruan. Dengan bangga kami persembahkan kepada Anda, album musik bersama dari Trio En Rio dan Kultivasi. Kami rasa, album ini berhasil menghadirkan hawa segar dalam sejarah keberadaan musik 'jazz' di bumi Indonesia. Alam pikir bebas yang bertanggung jawab yang mengaggumkan. Repetisi memang tetap menjadi bagian yang cukup dominan dalam tiap lagu mereka. Namun, kejutan dalam tiap lekuk suara yang diciptakan dengan spontan, melahirkan repetisi yang tidak sembarangan. Yang, kadang kami suka dari mereka-mereka ini juga, mereka tidak banyak 'cing-cong'. Karena, rasa sayang itu bukan untuk disebut-sebut, cukup diciptakan. Selain alunan musik bebas dari kedua kelompok musik, dalam album musik bersama ini Anda juga disuguhi lagu 'My Favourite Things', yang digubah ulang  oleh Trio En Rio dari gubahan ulang John Coltrane. Mengharukan. Keberadaan album ini, sekali lagi, merupakan sumbangan keindahan yang amat berarti bagi jagat musik 'jazz' tanah air. Luar biasa. Segera dengarkan.


Aug 13, 2016

EAR[79]+EAR[80] - Trio Enrio - Demo II + To Die - Live at Pier '14 (2016)

Geliat 'musik improvisasi' atau 'ekseprimental' di Indonesia kini semakin tak kasat mata. Individu maupun kelompok mulai bermunculan dari berbagai kota di negara ini, dengan ciri khasnya masing-masing.Dari yang paling sederhana, hingga yang paling kaya. Tanpa gaung yang menggelegar, Trio En Rio masuk ke dalam teritori tersebut. Saya pribadi, melihat Johanes Handjono (Johan) begitu aktif dalam banyak sesi improvisasi, semenjak keikutsertaannya di sesi Kombo. Bercengkrama dengan Johan dan melihat pola permainannya di sesi-sesi improvisasi, saya dapat merasakan semangatnya begitu besar dalam teritori musik yang seperti ini. Perasaan ini mengingatkan saya pada semangat para seniman garda depan, musik khususnya, di masa lampau.

Metode ini, tanpa dapat ditebak, menghasilkan kualitas bebunyian yang beragam. Salah satu yang kami rasa menonjol adalah Demo jilid dua dari Trio En Rio ini. Lewat rilisannya kali ini, kami mendapati bebunyian yang padat alur, meskipun masih terasa hentak spontanitasnya. Mereka juga tidak malas untuk merias hasil rekaman sampai jernih. Tak pantas rasanya menyebut semangat rekaman ini sebagai Jazz atau Free-Jazz. Saya merasakan sesuatu yang lebih tidak bernama dari perubahan-perubahan yang ada di dalamnya. Dari sudut pandang metode, bisa kita sebut sebagai musik improvisasi. Tetapi, improvisasi, sama dengan musik eksperimental, adalah suatu metode penciptaan bebunyian, bukan genre. Dengan hasil ciptaan musik-musik, dari yang paling sederhana, hingga yang paling kaya. Meskipun, tidak tahu kapan, bisa saja jadi genre.

Band ini mempersembahkan bebunyian tanpa nama. Ada suara, tanpa wujud (pengenal). Ke'ghaib'an yang lahir dari metode improvisasi. Namun, tidak patut juga kita untuk membahasnya dengan berlebihan. Setidaknya saya ingin memandang bebunyian ini, secara proporsional, sebagai produk bebunyian dalam teritori pemakaian metode improvisasi di dunia permusikkan. Yang akan berlalu, ditinggalkan oleh proses-proses penciptaan setelahnya. Menggiring kita pada rasa bahwa semua hal itu sebenarnya biasa-biasa saja. Mau bagaimanapun indahnya, mati juga tidak kita bawa.

Download Here
Trio En Rio Soundcloud



Kami rasa, To Die merupakan salah satu band yang tidak pernah redup semangat pembaharuannya. Mereka selalu menunjukkan kebaruan di berbagai aspek pada tiap rilisan. Hal baru yang mereka tonjolkan mereka kali ini adalah dari aspek perekaman dan pemakaian instrumen. To Die terus membuahkan karya, tidak pernah menyangkal berbagai penilaian yang ada, sehingga penilaian tersebut tidak dapat menghentikan mereka. Band ini seperti menunjukan bahwa hal yang remeh-temeh tetap mempunyai peran, keberartian, dan nilainya sendiri. Entah untuk diapresiasi, didengarkan sambil lalu, atau dipandang sebagai dokumentasi sejarah untuk pembuat bebunyiannya atau para pendengarnya. Kami menganjurkan Anda untuk tidak banyak berkspektasi, dengarkan, lalu pahami dan simpan dalam memori.

Download Here
To Die Facebook

Jun 25, 2016

EAR[76]+[77]+[78] - Bossbattle - Jakarta 'Noise' How To Party + VA - Split - Sarana & Coffee Faith - Yin & Yang + VA - Split - Sarin & J3M5 (2016)


Akhirnya kita sampai pada kesempatan untuk menunaikan kewajiban-kewajiban yang tertunda. Meskipun terdapat kewajiban-kewajiban lainnya yang mengalami efek domino atas tertundanya kewajiban yang sedang kami tunaikan ini.

Pada dasarnya ketiga rilisan yang kami lepaskan kali ini, memiliki prinsip presentasi suara yang sama: abstrak, dan bising. Perbedaannya terletak pada cara perekaman dan pengemasan suara dari tiap-tiap proyek. Bossbattle memilih untuk menyajikan rekaman suara yang begitu mentah, yang ia rasa sebagai salah satu set terbaiknya. Kita dapat menangkap suasana ribut dari sebuah hajatan noise music, dan mendengar bagaimana Bossbattle memainkan set yang terbilang cukup ganas. 

Coffee Faith dan Sarana menyajikan rekaman komposisi yang lebih tertata. Hasil rekaman-rekaman ini tidak dapat dibilang seratus persen memberi gambaran jelas pada tiap-tiap unsur bunyinya. Namun, upaya pembuatan komposisi atau penataan alur bunyi bisa dirasakan dengan mendengarkan 'album bersama' yang konseptual ini. Perpaduan bunyi yang misterius sekaligus lembut antara Samarinda dan Yogyakarta.

Selanjutnya merupakan rekaman album bersama persembahan dari Sarin dan J3M5. Rekaman ini menfasilitasi kita dengan hasil yang jelas, alur bunyi yang cukup rapi, dan kualitas rekaman yang bagus. Rekaman ini ditujukan bagi anda yang menyukai ketiga unsur rekaman yang kami sebutkan tadi. Sebenarnya rekaman ini adalah rekaman favorit kami, pada kegiatan pelepasan karya kali ini.

Selamat mendengarkan!




Apr 26, 2016

EAR[74]+[75] - Transcendents - FA(S)T + The Random Society - Demo (2016)



Selain membuat daftar putar terkait permasalahan hak cipta di Indonesia, kami juga merayakan World Intellectual Property Day (#WIPDay) dengan merilis dua karya sekaligus. Karya pertama adalah berasal dari Transcendents, band hardcore-punk dari kota Malang. Bisa anda sekalian lihat dari nama yang mereka pakai, band ini sedikit-banyak mungkin memiliki niat untuk menjadi band parodi dari Descendents. Seperti diingatkan pada salah satu lagu yang ada pada daftar putar kami, Padhayangan Project-Janet Jackson, yang memparodikan "That's The Way The Love Goes" menjadi "Nasib Anak Kost". Kualitas suara dari hasil olahan rekaman ini memberi nilai tambah untuk rekaman musik hardcore-punk yang memang ditugaskan untuk membuat pendengar melompat-lompat. Satu hal lagi yang relevan dengan #WIPDay adalah  band ini juga membawakan kembali 3 lagu dari Desecendents yakni, "All", "I Like Food", dan "No All". Bisa anda bayangkan betapa rumitnya punk-rock jika mengedepankan penegakan Hak Cipta, bahkan pada penggunaan non-komersial. Begitu juga musik Breakcore. Melihat kembali sejarahnya (setidaknya versi yang satu ini), Breakcore merupakan musik yang banyak menerapkan metode sampling dalam pembuatan lagunya, seperti Hip-Hop dan beberapa musik elektronik lainnya. Kami takjub melihat bagaimana musik ini dapat bertahan, dan tiap musisinya dapat terus berkembang dalam membuat tiap lagu. Salah satu bentuk kebebasan yang dapat bertahan dari tantangan-tantangan pelik yang banyak menyerang pengembangan lagu yang dilakukan oleh musisi dalam ranah musik elektronik, yang amat dekat dengan metode atau budaya sampling. Lewat rilisan ini, kami rasa The Random Society berhasil menjadi salah satu aktor dalam berkembangnya musik dengan latar belakang sejarah yang mengedepankan kebebasan dan perkembangan tersebut.

Selamat menikmati!


Alertantionct | News | Intellectual Property Day 2016 - Antologi Masalah Hak Cipta 1969-2012 (Theodore KS)



Selamat hari Hak Kekayaan Intelektual 2016 (versi WIPO. belum diketahui ada versi yang lain atau tidak) pendengar sekalian. Kami memutuskan untuk turut serta merayakan hari tersebut, dan memilih Hak Cipta sebagai salah satu hak yang kami rayakan hari ini. Terinspirasi dari daftar antologi masalah hak cipta dari tahun 1969 hingga 2012 yang Tuan Theodore KS bagi lewat bukunya "Rock 'N Roll: Industri Musik Indonesia Dari Analog ke Digital", kami kemudian mewujud-nyatakan daftar tersebut dengan memanfaatkan fitur daftar putar yang disediakan oleh Youtube. Daftar antologi masalah hak cipta yang beliau buat merupakan kumpulan berita dari media-media seperti Hai, Aktuil, Rolling Stone Indonesia, Kompas, Tempo, dan  Harian Merdeka. Kemudian beliau menyusun kumpulan berita-berita tersebut secara kronologis dari tahun yang terdahulu hingga yang terkini. Selain berita-berita terkait posisi hukum Indonesia di mata Hukum Hak Cipta Internasional, terdapat beberapa berita tentang pembajakan rekaman kaset maupun piringan hitam, tuduhan penjiplakan karya lagu asing ke Indonesia, dan juga sebaliknya. Beliau menjabarkan secara rinci tiap-tiap karya lagu yang menjadi obyek hukum dari tiap masalah hak cipta yang terjadi di Indonesia. Informasi yang terperinci tersebut kemudian kami manfaatkan untuk membuat daftar putar yang dapat anda sekalian nikmati ini. Sembari menjelajahi kembali sejarah musik Indonesia dari tiap karya yang dibuat, anda sekalian juga mungkin dapat menaksir-naksir bagaimana karya-karya ini menjadi karya layak bajak dari tiap era. Untuk menambah informasi terkait daftar yang dibuat oleh bung Theodore kami akan menjabarkan beberapa fakta menarik yang kami temukan dari daftar tersebut:
- Pencaplokan lagu "Terang Bulan Terang Di Kali yang oleh Malaysia ternyata dijadikan lagu kebangsaan.
- Didendanya Orkes Kerontjong Tetap Segar akibat perekaman lagu barat seperti "The Autumn Leaves" dan " I Left My Heart In San Francisco".
- Bing Slamet dan kawan-kawan yang tergabung dalam Kwartet Jaya menuntut perkaman lawakannya di tiga night club dan memperjual-belikannya dalam bentuk kaset tanpa seizin mereka. 
- Partitur "Telah Berdaun Rimba Jati" (Trio Bimbo) dan lagu klasik Spanyol "Segovia Espanoleta and Fanfare of the Naples Cavalry" diberitakan majalah musik TOP, karena dianggap mirip satu dengan yang lainnya.
- Yahya Ali Lahji mengeluhkan perekaman tanpa izin lagu ciptaannya "Api Asmara" dan dinyanyikan kembali oleh Broery Pesolima, Titiek Puspa, Grace Simon, Franky Manoppo, dan Arie Koesmiran.
- Lagu-lagu Indonesia direkam di Filipina dengan judul yang diubah dan pencipta tidak disebut sama sekali. Antara lain, terdapat lagu "Melati Dari Jayagiri" (Bimbo) dan "Bila Kau Seorang Diri" (Rinto Harahap).
- Pengadilan Negeri/Niaga Medan, memutuskan lagu "Laksmana Raja Di Laut" berstatus NN (anonim), yang dalam bahasa Undang-Undang HAKI, Hak Ciptanya di tangan negara.
 - Jaja Miharja meminta agar namanya dicantumkan sebagai pencipta lagu "Apaan Tuh...!" di samping Papa T. Bob. Jaja merasa bahwa istilah tersebut menjadi populer setelah kerap diucapkan olehnya dalam acara Kuis Dangdut di TPI. 
Karena kami sadar, bahwa posisi musik di dalam kehidupan tidak melulu sebagai obyek dengar sambil lalu. Dari beberapa karya terdapat pesona kebudayaan, cerita sejarah, dan ilmu pengetahuan yang kaya manfaat bagi kehidupan. Sebagai salah satu agen penyebar salah satu bentuk kebudayaan, dengan semangat berbagi, kami ikut merayakan hari ini! Kami pun percaya bahwa, kritik itu bukan hanya nafas untuk menguatkan satu pembenaran ataupun koreksi kesalahan, tapi merupakan dorongan untuk terus menciptkan KEBARUAN. Selamat mendengarkan!

* Daftar selengkapnya bisa anda baca di buku tersebut.
* Beberapa lagu lokal yang kami sandingkan dengan lagu barat adalah lagu-lagu yang diberitakan memiliki kemiripan, dan dituduh mencontek lagu yang sebelumnya sudah ada.