Apr 26, 2016

EAR[74]+[75] - Transcendents - FA(S)T + The Random Society - Demo (2016)



Selain membuat daftar putar terkait permasalahan hak cipta di Indonesia, kami juga merayakan World Intellectual Property Day (#WIPDay) dengan merilis dua karya sekaligus. Karya pertama adalah berasal dari Transcendents, band hardcore-punk dari kota Malang. Bisa anda sekalian lihat dari nama yang mereka pakai, band ini sedikit-banyak mungkin memiliki niat untuk menjadi band parodi dari Descendents. Seperti diingatkan pada salah satu lagu yang ada pada daftar putar kami, Padhayangan Project-Janet Jackson, yang memparodikan "That's The Way The Love Goes" menjadi "Nasib Anak Kost". Kualitas suara dari hasil olahan rekaman ini memberi nilai tambah untuk rekaman musik hardcore-punk yang memang ditugaskan untuk membuat pendengar melompat-lompat. Satu hal lagi yang relevan dengan #WIPDay adalah  band ini juga membawakan kembali 3 lagu dari Desecendents yakni, "All", "I Like Food", dan "No All". Bisa anda bayangkan betapa rumitnya punk-rock jika mengedepankan penegakan Hak Cipta, bahkan pada penggunaan non-komersial. Begitu juga musik Breakcore. Melihat kembali sejarahnya (setidaknya versi yang satu ini), Breakcore merupakan musik yang banyak menerapkan metode sampling dalam pembuatan lagunya, seperti Hip-Hop dan beberapa musik elektronik lainnya. Kami takjub melihat bagaimana musik ini dapat bertahan, dan tiap musisinya dapat terus berkembang dalam membuat tiap lagu. Salah satu bentuk kebebasan yang dapat bertahan dari tantangan-tantangan pelik yang banyak menyerang pengembangan lagu yang dilakukan oleh musisi dalam ranah musik elektronik, yang amat dekat dengan metode atau budaya sampling. Lewat rilisan ini, kami rasa The Random Society berhasil menjadi salah satu aktor dalam berkembangnya musik dengan latar belakang sejarah yang mengedepankan kebebasan dan perkembangan tersebut.

Selamat menikmati!


Alertantionct | News | Intellectual Property Day 2016 - Antologi Masalah Hak Cipta 1969-2012 (Theodore KS)



Selamat hari Hak Kekayaan Intelektual 2016 (versi WIPO. belum diketahui ada versi yang lain atau tidak) pendengar sekalian. Kami memutuskan untuk turut serta merayakan hari tersebut, dan memilih Hak Cipta sebagai salah satu hak yang kami rayakan hari ini. Terinspirasi dari daftar antologi masalah hak cipta dari tahun 1969 hingga 2012 yang Tuan Theodore KS bagi lewat bukunya "Rock 'N Roll: Industri Musik Indonesia Dari Analog ke Digital", kami kemudian mewujud-nyatakan daftar tersebut dengan memanfaatkan fitur daftar putar yang disediakan oleh Youtube. Daftar antologi masalah hak cipta yang beliau buat merupakan kumpulan berita dari media-media seperti Hai, Aktuil, Rolling Stone Indonesia, Kompas, Tempo, dan  Harian Merdeka. Kemudian beliau menyusun kumpulan berita-berita tersebut secara kronologis dari tahun yang terdahulu hingga yang terkini. Selain berita-berita terkait posisi hukum Indonesia di mata Hukum Hak Cipta Internasional, terdapat beberapa berita tentang pembajakan rekaman kaset maupun piringan hitam, tuduhan penjiplakan karya lagu asing ke Indonesia, dan juga sebaliknya. Beliau menjabarkan secara rinci tiap-tiap karya lagu yang menjadi obyek hukum dari tiap masalah hak cipta yang terjadi di Indonesia. Informasi yang terperinci tersebut kemudian kami manfaatkan untuk membuat daftar putar yang dapat anda sekalian nikmati ini. Sembari menjelajahi kembali sejarah musik Indonesia dari tiap karya yang dibuat, anda sekalian juga mungkin dapat menaksir-naksir bagaimana karya-karya ini menjadi karya layak bajak dari tiap era. Untuk menambah informasi terkait daftar yang dibuat oleh bung Theodore kami akan menjabarkan beberapa fakta menarik yang kami temukan dari daftar tersebut:
- Pencaplokan lagu "Terang Bulan Terang Di Kali yang oleh Malaysia ternyata dijadikan lagu kebangsaan.
- Didendanya Orkes Kerontjong Tetap Segar akibat perekaman lagu barat seperti "The Autumn Leaves" dan " I Left My Heart In San Francisco".
- Bing Slamet dan kawan-kawan yang tergabung dalam Kwartet Jaya menuntut perkaman lawakannya di tiga night club dan memperjual-belikannya dalam bentuk kaset tanpa seizin mereka. 
- Partitur "Telah Berdaun Rimba Jati" (Trio Bimbo) dan lagu klasik Spanyol "Segovia Espanoleta and Fanfare of the Naples Cavalry" diberitakan majalah musik TOP, karena dianggap mirip satu dengan yang lainnya.
- Yahya Ali Lahji mengeluhkan perekaman tanpa izin lagu ciptaannya "Api Asmara" dan dinyanyikan kembali oleh Broery Pesolima, Titiek Puspa, Grace Simon, Franky Manoppo, dan Arie Koesmiran.
- Lagu-lagu Indonesia direkam di Filipina dengan judul yang diubah dan pencipta tidak disebut sama sekali. Antara lain, terdapat lagu "Melati Dari Jayagiri" (Bimbo) dan "Bila Kau Seorang Diri" (Rinto Harahap).
- Pengadilan Negeri/Niaga Medan, memutuskan lagu "Laksmana Raja Di Laut" berstatus NN (anonim), yang dalam bahasa Undang-Undang HAKI, Hak Ciptanya di tangan negara.
 - Jaja Miharja meminta agar namanya dicantumkan sebagai pencipta lagu "Apaan Tuh...!" di samping Papa T. Bob. Jaja merasa bahwa istilah tersebut menjadi populer setelah kerap diucapkan olehnya dalam acara Kuis Dangdut di TPI. 
Karena kami sadar, bahwa posisi musik di dalam kehidupan tidak melulu sebagai obyek dengar sambil lalu. Dari beberapa karya terdapat pesona kebudayaan, cerita sejarah, dan ilmu pengetahuan yang kaya manfaat bagi kehidupan. Sebagai salah satu agen penyebar salah satu bentuk kebudayaan, dengan semangat berbagi, kami ikut merayakan hari ini! Kami pun percaya bahwa, kritik itu bukan hanya nafas untuk menguatkan satu pembenaran ataupun koreksi kesalahan, tapi merupakan dorongan untuk terus menciptkan KEBARUAN. Selamat mendengarkan!

* Daftar selengkapnya bisa anda baca di buku tersebut.
* Beberapa lagu lokal yang kami sandingkan dengan lagu barat adalah lagu-lagu yang diberitakan memiliki kemiripan, dan dituduh mencontek lagu yang sebelumnya sudah ada.

Apr 15, 2016

EAR[73] - VA - Split - Theonugraha X TRVEK - Urakan (2016)





Setelah merampungkan proyek Dialog dan Komunikasi, dan terus produktif menambah jumlah artefak bebunyiannya di laman bandcamp seperti Richard Ramirez, Theonugraha (Samarinda/Palangkaraya) kembali merilis karyanya yang berjudul 'Urakan' di Netlabel kami. Kali ini Theo membuat rilisan dalam format split, dengan mengajak TRVEK sebagai pendamping. Dua entitas tersebut menyumbangkan masing-masing tiga track di dalam rilisan ini. TRVEK menyuguhkan bunyi-bunyi minimal dan abstrak, yang membawa kami pada dugaan tentang proses pembuatannya yang serupa. Theonugraha seolah tampil sebagai 'penyelamat pertunjukan' di dalam split ini. Terasa sekali perbedaan corak dari masing-masing komposisinya, apabila didengarkan secara seksama. Entah hal itu terasa dari proses pengolahannya ataupun proses perekamannya. Hal ini menunjukan bahwa sebagai seorang performer maupun composer noise: Theonugraha telah berkembang ke arah yang lebih baik. Rilisan ini ia rilis bersamaan dengan perilisan format fisiknya yang dirilis pada hari toko rekaman sedunia (Record Store Day). 

Apr 5, 2016

EAR[72] - VA - Split - Binatang Liar & To Die (2016)


Kami tahu, bahwa sebelumnya kami menyatakan akan merilis beberapa rilisan dengan tagline "Triple Noise Attack". Tetapi, agenda tersebut akan kami tunda sejenak, demi sebuah 'selingan' yang sifatnya wajib untuk ditetaskan ini. Rilisan dalam format split ini nampaknya sudah lama dieram oleh Binatang Liar dan Todie untuk kemudian ditetaskan secara tiba-tiba, sekarang ini. Kedua band ini menyuguhkan gaya yang sama. Ringkas dan agresif. Mendengarkan tembang-tembang mereka yang menonjok tapi tetap sederhana ini, membawa kami kepada fase terbelalak yang singkat, namun berkelanjutan, dengan tidak melupakan ruang rehat bagi telinga. Bagi anda para calon pendengar, dengan segala kerendahan hati kami menginstruksikan kepada anda sekalian agar tidak lupa untuk membaca pesan-pesan yang diungkapkan oleh kedua band pada bagian sampul belakang album rilisan ini. Supaya silahturahmi dan komunikasi antara pendengar dan penggerinda dapat terus terjalin secara sehat. Akhir kata, dengarkan, Wassallam.

Feb 5, 2016

EAR[71] - Wednes Mandra & Rinaldy Saputro - Soundtracks for Plerette (2016)


Sudah cukup lama kami mengamati 'Pleretian Sound' dengan segala perkembangannya. Sentuhan dari 'Pleretian Sound' ini telah dikembangkan ke dalam berbagai ragam musik. Salah satu produk musik yang paling berhasil adalah tembang-tembang yang dibuat oleh Rabu, masih dengan balutan khas 'Pleretian Sound'. Kali ini, Wednes Mandra dengan rekannya Rinaldy Saputro, mengemas 'Pleretian Sound' dalam wujud soundtrack/scoring musik yang digunakan untuk mendukung suasana yang divisualisasikan oleh film dokumenter tentang kerajaan Pleret. Sebuah keputusan yang tepat untuk menggandeng kedua komposer ini sebagai pembuat musik pengiring film dokumenter tersebut. Karena, dari musik yang mereka buat, kami dapat membayangkan tiap-tiap wujud visualnya, selain itu terasa pula usaha mereka dalam menceritakan sebuah sejarah melalui karya bebunyian dengan memberi kesan anggun dan kolosal. Bagi anda sekalian yang sudah akrab atau menggemari musik-musik yang dibuat oleh Ramin Djawadi, John Williams, atau Joe Hisashi dapat dipastikan akan menyukai musik-musik yang ada di album ini. Selain itu anda juga akan mendapatkan pengalaman mendengarkan yang baru, yaitu sentuhan 'Pleretian Sound' pada tembang-tembang bernuansa kolosal ini. Meskipun tidak dapat dipungkiri masih tertangkap dominasi hawa kebarat-baratan dari tiap lekuk bunyi dari album ini. Adapun nuansa lokal dapat anda rasakan dari penggunaan sample gamelan pada tembang '1565 Çaka' dan 'Echoes From The Past', dengan atmosfir 'Pleretian Sound' yang diselimutkan oleh dua pasang tangan milik pembuat soundtrack ini. Akhir kata, selamat meikmati rasa megah dari tembang-tembang ayng digarap secara minimalis ini. Salam.