Showing posts with label Releases. Show all posts
Showing posts with label Releases. Show all posts

Nov 25, 2016

EAR[83] - ஜ۩۩۩۩ஜ - homonculus (2016) [RIP EAR ALERT RECORDS]


Dengan penuh rasa haru yang biasa saja, sebelum kami menerangkan apa yang kami bantu bagikan seperti biasanya, kami nyatakan bahwa PT. Ear Alert Records (EAR) resmi berhenti beroperasi. Berhentinya operasi berbagi dari PT. EAR, bukan berarti semangat berbagi dari Direktur, para pemegang saham, karyawan-karyawan, dan pak satpam sekalipun berhenti di sini. Semangat berbagi akan tetap diproduksi, apapun bentuknya nanti.

Rilisan kali ini merupakan bingkisan bunyi sinematis yang dipersembahkan oleh  ஜ۩۩۩۩ஜ, dengan judul 'homonculus'. Mari sejenak kita tengok latar kisah dari bingkisan kali ini.


"My name is Ismoyo Cahyadi, it’s 2161. The city’s dead and this godforsaken
debris formerly was an office owned by my grandfather Badrun Cahyadi,
the last CEO of Sukamakmur Inc.  “All the supplements, vitamins, and
drugs in stores, we really want to stay alive and well but don’t know
how.” That was the motto of our family carved in marble at front of the
office lobby. Ah, I remember a story of my childhood…

The year is 2138, Sukamakmur Inc a biggest herbal supplement industry in
Indonesia made a big breakthrough after discovering ancient secret in
Madhawapura inscription. Sukamakmur that led the world's herbology once
again showed a victorious step of herbal over pharmaceutical industry by
releasing Jamutopia, a brain stimulant which enhances the effect of
monoamines to boost human brain performance.

One pill a day is the recommended dose; after a month on Jamutopia start
taking its effects on human brain. People able to fully grasp and
understand whatever the heard, whether someone lies or not, the true
intentions behind their words; with Jamutopia everything clear as a
writing in paper.

Start from South East Asia market to East Pacific and then Middle East,
Jamutopia's trend spread fast like a wildfire. Not long after its
release date, WHO support Sukamakmur to distribute Jamutopia globally.

A couple years after Jamutopia, there were an era of peace. Thanks to
Jamutopia there were no room for lies; crimes and wars significantly
reduced, no more misunderstandings, a world without falsehood. Almost
all of world's leaders participate in a global movement to promote
Jamutopia of Sukamakmur Inc for the sake of world peace and future of
mankind.

It is just almost unheard, strange cases started in Burkina Faso where
people showed allergic symptoms to Jamutopia. These happenings not only
stopped in Africa, more recent cases found in China and Thailand; by
2161, WHO found that around 12% of world populations are allergic to
Jamutopia. The symptoms started by dizziness and nausea but after three
months most of them fall into coma

Those victims of Jamutopia were sent to Sukamakmur's facilities around the
world, researches and many attempts proved futile. After 4 years of
coma, in an exact same moment, every Jamutopia coma patients around the
world were awakened. By those awakenings, most of the world population
that previously not affected by any side effects of Jamutopia use
suddenly falls into suspended animation state.

Only need a month to make a third of world population fall into suspended
animation state and the number in increasing rapidly; Sukamakmur Inc,
most of world governments also other healthcare/pharmaceutical industry
were collapsed before able to make any attempts to stop the plague."

Dalam menceritakan kisah tentang kesuksesan, dan keruntuhan PT. Sukamakmur dengan Jamutopia-nya ini, Ismoyo Cahyadi membantu kita untuk mencitrakan alur kisah tersebut dengan menyajikan 7 bebunyian yang digarap dengan metode-metode yang kerap digunakan dalam ranah musik elektronik. Dengan kreasinya ini, Ismoyo berupaya menghisap kita untuk masuk ke dalam dunia ciptaanya. Hal ini merupakan salah satu alasan kuat mengapa kami memilih ciptaan ini sebagai penutup beroperasinya PT. EAR. Kami merasakan kesamaan rasa ketika seorang pencipta membuat sebuah unit ciptaan. Rasa di mana ketika seorang pencipta, menciptakan suatu ciptaan, tidak boleh tanggung-tanggung. 
Mencipta adalah suatu aktivitas yang agung. Suatu karunia yang diberikan dari sang Maha Pencipta kepada kita. Maka ketika sang Maha Pencipta yang menciptakan kita sebagai 'isi' dari ciptaannya yang luar biasa besarnya ini (Dunia), kenapa kita tidak memanfaatkan kemampuan mencipta yang dikaruniakannya kepada kita ini untuk juga menciptakan suatu dunia. Maka dari itu, Saya (H.F./Suckling), memperlakukan Ear Alert Records ini sebagai suatu dunia yang lain juga, sebuah perusahaan rekaman. Perusahaan rekaman, yang dengan tulus membagikan suara, dengan bantuan para karyawan-karyawannya, untuk subyek-subyek sasarannya, bukan sekujur tubuh manusia, hanya sepasang telinga
Seperti itu lah mungkin gambaran rasa terkait ciptaan Ismoyo Cahyadi ini, kami dapat merasakan ketulusan penciptaan dunianya ini. Dan ciptaannya TIDAK TANGGUNG. Dari cerita, gambar, dan suara-suaranya, kami dapat mencium aroma jamu yang dideskripsikan. Kami dapat membayangkan dunia ciptaannya, sesuai yang dia amanatkan pada karyanya. Setiap bunyinya beralur, dan meninggalkan kesan yang berbeda. Dan satu hal lagi yang membuat kami semakin suka dengan paket bebunyian ini, minimalistis. Tujuan PT. EAR beroperasi juga untuk meyakinkan kepada para telinga bahwa ada bunyi-bunyi yang mereka lewatkan, yang layaknya dapat mereka perhatikan dengan berhenti sejenak. Ya, rata-rata bunyi-bunyi tersebut dibuat dengan upaya yang minimal, alat yang minimal, yang kemudian dapat dirasakan minimalitasnya ketika sudah jadi. Kesederhanaan-kesederhanaan itu lah yang ingin dibagi, hingga sekarang ini. 
Bagaimana kita sejenak tidak memikirkan kerumitan-kerumitan yang ada di luar...
Dan masuk ke dalam untuk tertidur membuang itu semua.
Download Here


Salam, sampai jumpa di lain kesempatan.

R.I.P. PT. EAR (2012-2016)

Oct 4, 2016

EAR[82] - PSK - Greatest Hits: Anarchy In The Indie (2016)





Buah kemuakan kadang-kadang tidak dapat diduga rasanya. Namun, ada satu hal yang tak dapat dipungkiri. Suatu hal yang selalu muncul pada akhir tiap buah kemuakan, yaitu kejenakaan. PSK adalah proyek musik yang sudah kerap menjajaki panggung pentas-pentas kesenian di Yogyakarta. Tak sekalipun kami pernah menonton wujud nyata, dan performa proyek musik ini di atas panggung. Hanya kiriman tembang-tembang yang dilandasi dengan ketulusan untuk berbagi ini yang kemudian menjadi satu penerangan bagi kami, tentang apa itu PSK. Jelas, pasti banyak dari Anda sekalian yang tidak mengenal proyek musik ini. Tetapi, judul-judul tembang di album ini mungkin dapat memantik Anda untuk terjun, dan berkenalan dengan mendengarkan tiap tembangnya. Kami memutuskan untuk meminimalisir penjelasan tentang rilisan ini, dengan alasan agar Anda sekalian secara alami terpantik oleh pesona, maupun aura dari proyek ini. Silahkan.

PSK tidak memiliki laman di dalam jaringan.

Sep 18, 2016

EAR[81]+EAR[82] - Detroak - CP/D.B-3 + VA - Split - Kultivasi & Trio En Rio (2016)


Album ini (mungkin) adalah sebuah awal dari Detroak. Lekuk-lekuk suaranya minimalis, menggabungkan model bunyi yang gelap dan rendah, dan beberapa titik kejut distorsi dalam lagu-lagunya. Mengapa minimalis? Karena, terasa sekali bahwa produksi bunyi ini dibuat menggunakan perangkat lunak yang rumus algoritmanya mampu mengakomodasi pembuatan bunyi. Tidak layak untuk dihakimi, namun sangat layak untuk dikisahkan, hal-hal kecil seperti ini. Banyak hal yang dapat kita nantikan dari semangat yang tertuang dalam kompilasi melalui album debut ciptaan Tanaya ini. Selamat mendengarkan.



Demi segala kepuasan dalam kegemaran mendengarkan segala jenis musik. Juga, demi segala bentuk semangat yang tercurahkan dalam tiap penciptaan kebaruan. Dengan bangga kami persembahkan kepada Anda, album musik bersama dari Trio En Rio dan Kultivasi. Kami rasa, album ini berhasil menghadirkan hawa segar dalam sejarah keberadaan musik 'jazz' di bumi Indonesia. Alam pikir bebas yang bertanggung jawab yang mengaggumkan. Repetisi memang tetap menjadi bagian yang cukup dominan dalam tiap lagu mereka. Namun, kejutan dalam tiap lekuk suara yang diciptakan dengan spontan, melahirkan repetisi yang tidak sembarangan. Yang, kadang kami suka dari mereka-mereka ini juga, mereka tidak banyak 'cing-cong'. Karena, rasa sayang itu bukan untuk disebut-sebut, cukup diciptakan. Selain alunan musik bebas dari kedua kelompok musik, dalam album musik bersama ini Anda juga disuguhi lagu 'My Favourite Things', yang digubah ulang  oleh Trio En Rio dari gubahan ulang John Coltrane. Mengharukan. Keberadaan album ini, sekali lagi, merupakan sumbangan keindahan yang amat berarti bagi jagat musik 'jazz' tanah air. Luar biasa. Segera dengarkan.


Aug 13, 2016

EAR[79]+EAR[80] - Trio Enrio - Demo II + To Die - Live at Pier '14 (2016)

Geliat 'musik improvisasi' atau 'ekseprimental' di Indonesia kini semakin tak kasat mata. Individu maupun kelompok mulai bermunculan dari berbagai kota di negara ini, dengan ciri khasnya masing-masing.Dari yang paling sederhana, hingga yang paling kaya. Tanpa gaung yang menggelegar, Trio En Rio masuk ke dalam teritori tersebut. Saya pribadi, melihat Johanes Handjono (Johan) begitu aktif dalam banyak sesi improvisasi, semenjak keikutsertaannya di sesi Kombo. Bercengkrama dengan Johan dan melihat pola permainannya di sesi-sesi improvisasi, saya dapat merasakan semangatnya begitu besar dalam teritori musik yang seperti ini. Perasaan ini mengingatkan saya pada semangat para seniman garda depan, musik khususnya, di masa lampau.

Metode ini, tanpa dapat ditebak, menghasilkan kualitas bebunyian yang beragam. Salah satu yang kami rasa menonjol adalah Demo jilid dua dari Trio En Rio ini. Lewat rilisannya kali ini, kami mendapati bebunyian yang padat alur, meskipun masih terasa hentak spontanitasnya. Mereka juga tidak malas untuk merias hasil rekaman sampai jernih. Tak pantas rasanya menyebut semangat rekaman ini sebagai Jazz atau Free-Jazz. Saya merasakan sesuatu yang lebih tidak bernama dari perubahan-perubahan yang ada di dalamnya. Dari sudut pandang metode, bisa kita sebut sebagai musik improvisasi. Tetapi, improvisasi, sama dengan musik eksperimental, adalah suatu metode penciptaan bebunyian, bukan genre. Dengan hasil ciptaan musik-musik, dari yang paling sederhana, hingga yang paling kaya. Meskipun, tidak tahu kapan, bisa saja jadi genre.

Band ini mempersembahkan bebunyian tanpa nama. Ada suara, tanpa wujud (pengenal). Ke'ghaib'an yang lahir dari metode improvisasi. Namun, tidak patut juga kita untuk membahasnya dengan berlebihan. Setidaknya saya ingin memandang bebunyian ini, secara proporsional, sebagai produk bebunyian dalam teritori pemakaian metode improvisasi di dunia permusikkan. Yang akan berlalu, ditinggalkan oleh proses-proses penciptaan setelahnya. Menggiring kita pada rasa bahwa semua hal itu sebenarnya biasa-biasa saja. Mau bagaimanapun indahnya, mati juga tidak kita bawa.

Download Here
Trio En Rio Soundcloud



Kami rasa, To Die merupakan salah satu band yang tidak pernah redup semangat pembaharuannya. Mereka selalu menunjukkan kebaruan di berbagai aspek pada tiap rilisan. Hal baru yang mereka tonjolkan mereka kali ini adalah dari aspek perekaman dan pemakaian instrumen. To Die terus membuahkan karya, tidak pernah menyangkal berbagai penilaian yang ada, sehingga penilaian tersebut tidak dapat menghentikan mereka. Band ini seperti menunjukan bahwa hal yang remeh-temeh tetap mempunyai peran, keberartian, dan nilainya sendiri. Entah untuk diapresiasi, didengarkan sambil lalu, atau dipandang sebagai dokumentasi sejarah untuk pembuat bebunyiannya atau para pendengarnya. Kami menganjurkan Anda untuk tidak banyak berkspektasi, dengarkan, lalu pahami dan simpan dalam memori.

Download Here
To Die Facebook

Jun 25, 2016

EAR[76]+[77]+[78] - Bossbattle - Jakarta 'Noise' How To Party + VA - Split - Sarana & Coffee Faith - Yin & Yang + VA - Split - Sarin & J3M5 (2016)


Akhirnya kita sampai pada kesempatan untuk menunaikan kewajiban-kewajiban yang tertunda. Meskipun terdapat kewajiban-kewajiban lainnya yang mengalami efek domino atas tertundanya kewajiban yang sedang kami tunaikan ini.

Pada dasarnya ketiga rilisan yang kami lepaskan kali ini, memiliki prinsip presentasi suara yang sama: abstrak, dan bising. Perbedaannya terletak pada cara perekaman dan pengemasan suara dari tiap-tiap proyek. Bossbattle memilih untuk menyajikan rekaman suara yang begitu mentah, yang ia rasa sebagai salah satu set terbaiknya. Kita dapat menangkap suasana ribut dari sebuah hajatan noise music, dan mendengar bagaimana Bossbattle memainkan set yang terbilang cukup ganas. 

Coffee Faith dan Sarana menyajikan rekaman komposisi yang lebih tertata. Hasil rekaman-rekaman ini tidak dapat dibilang seratus persen memberi gambaran jelas pada tiap-tiap unsur bunyinya. Namun, upaya pembuatan komposisi atau penataan alur bunyi bisa dirasakan dengan mendengarkan 'album bersama' yang konseptual ini. Perpaduan bunyi yang misterius sekaligus lembut antara Samarinda dan Yogyakarta.

Selanjutnya merupakan rekaman album bersama persembahan dari Sarin dan J3M5. Rekaman ini menfasilitasi kita dengan hasil yang jelas, alur bunyi yang cukup rapi, dan kualitas rekaman yang bagus. Rekaman ini ditujukan bagi anda yang menyukai ketiga unsur rekaman yang kami sebutkan tadi. Sebenarnya rekaman ini adalah rekaman favorit kami, pada kegiatan pelepasan karya kali ini.

Selamat mendengarkan!




Apr 26, 2016

EAR[74]+[75] - Transcendents - FA(S)T + The Random Society - Demo (2016)



Selain membuat daftar putar terkait permasalahan hak cipta di Indonesia, kami juga merayakan World Intellectual Property Day (#WIPDay) dengan merilis dua karya sekaligus. Karya pertama adalah berasal dari Transcendents, band hardcore-punk dari kota Malang. Bisa anda sekalian lihat dari nama yang mereka pakai, band ini sedikit-banyak mungkin memiliki niat untuk menjadi band parodi dari Descendents. Seperti diingatkan pada salah satu lagu yang ada pada daftar putar kami, Padhayangan Project-Janet Jackson, yang memparodikan "That's The Way The Love Goes" menjadi "Nasib Anak Kost". Kualitas suara dari hasil olahan rekaman ini memberi nilai tambah untuk rekaman musik hardcore-punk yang memang ditugaskan untuk membuat pendengar melompat-lompat. Satu hal lagi yang relevan dengan #WIPDay adalah  band ini juga membawakan kembali 3 lagu dari Desecendents yakni, "All", "I Like Food", dan "No All". Bisa anda bayangkan betapa rumitnya punk-rock jika mengedepankan penegakan Hak Cipta, bahkan pada penggunaan non-komersial. Begitu juga musik Breakcore. Melihat kembali sejarahnya (setidaknya versi yang satu ini), Breakcore merupakan musik yang banyak menerapkan metode sampling dalam pembuatan lagunya, seperti Hip-Hop dan beberapa musik elektronik lainnya. Kami takjub melihat bagaimana musik ini dapat bertahan, dan tiap musisinya dapat terus berkembang dalam membuat tiap lagu. Salah satu bentuk kebebasan yang dapat bertahan dari tantangan-tantangan pelik yang banyak menyerang pengembangan lagu yang dilakukan oleh musisi dalam ranah musik elektronik, yang amat dekat dengan metode atau budaya sampling. Lewat rilisan ini, kami rasa The Random Society berhasil menjadi salah satu aktor dalam berkembangnya musik dengan latar belakang sejarah yang mengedepankan kebebasan dan perkembangan tersebut.

Selamat menikmati!


Apr 15, 2016

EAR[73] - VA - Split - Theonugraha X TRVEK - Urakan (2016)





Setelah merampungkan proyek Dialog dan Komunikasi, dan terus produktif menambah jumlah artefak bebunyiannya di laman bandcamp seperti Richard Ramirez, Theonugraha (Samarinda/Palangkaraya) kembali merilis karyanya yang berjudul 'Urakan' di Netlabel kami. Kali ini Theo membuat rilisan dalam format split, dengan mengajak TRVEK sebagai pendamping. Dua entitas tersebut menyumbangkan masing-masing tiga track di dalam rilisan ini. TRVEK menyuguhkan bunyi-bunyi minimal dan abstrak, yang membawa kami pada dugaan tentang proses pembuatannya yang serupa. Theonugraha seolah tampil sebagai 'penyelamat pertunjukan' di dalam split ini. Terasa sekali perbedaan corak dari masing-masing komposisinya, apabila didengarkan secara seksama. Entah hal itu terasa dari proses pengolahannya ataupun proses perekamannya. Hal ini menunjukan bahwa sebagai seorang performer maupun composer noise: Theonugraha telah berkembang ke arah yang lebih baik. Rilisan ini ia rilis bersamaan dengan perilisan format fisiknya yang dirilis pada hari toko rekaman sedunia (Record Store Day). 

Apr 5, 2016

EAR[72] - VA - Split - Binatang Liar & To Die (2016)


Kami tahu, bahwa sebelumnya kami menyatakan akan merilis beberapa rilisan dengan tagline "Triple Noise Attack". Tetapi, agenda tersebut akan kami tunda sejenak, demi sebuah 'selingan' yang sifatnya wajib untuk ditetaskan ini. Rilisan dalam format split ini nampaknya sudah lama dieram oleh Binatang Liar dan Todie untuk kemudian ditetaskan secara tiba-tiba, sekarang ini. Kedua band ini menyuguhkan gaya yang sama. Ringkas dan agresif. Mendengarkan tembang-tembang mereka yang menonjok tapi tetap sederhana ini, membawa kami kepada fase terbelalak yang singkat, namun berkelanjutan, dengan tidak melupakan ruang rehat bagi telinga. Bagi anda para calon pendengar, dengan segala kerendahan hati kami menginstruksikan kepada anda sekalian agar tidak lupa untuk membaca pesan-pesan yang diungkapkan oleh kedua band pada bagian sampul belakang album rilisan ini. Supaya silahturahmi dan komunikasi antara pendengar dan penggerinda dapat terus terjalin secara sehat. Akhir kata, dengarkan, Wassallam.

Feb 5, 2016

EAR[71] - Wednes Mandra & Rinaldy Saputro - Soundtracks for Plerette (2016)


Sudah cukup lama kami mengamati 'Pleretian Sound' dengan segala perkembangannya. Sentuhan dari 'Pleretian Sound' ini telah dikembangkan ke dalam berbagai ragam musik. Salah satu produk musik yang paling berhasil adalah tembang-tembang yang dibuat oleh Rabu, masih dengan balutan khas 'Pleretian Sound'. Kali ini, Wednes Mandra dengan rekannya Rinaldy Saputro, mengemas 'Pleretian Sound' dalam wujud soundtrack/scoring musik yang digunakan untuk mendukung suasana yang divisualisasikan oleh film dokumenter tentang kerajaan Pleret. Sebuah keputusan yang tepat untuk menggandeng kedua komposer ini sebagai pembuat musik pengiring film dokumenter tersebut. Karena, dari musik yang mereka buat, kami dapat membayangkan tiap-tiap wujud visualnya, selain itu terasa pula usaha mereka dalam menceritakan sebuah sejarah melalui karya bebunyian dengan memberi kesan anggun dan kolosal. Bagi anda sekalian yang sudah akrab atau menggemari musik-musik yang dibuat oleh Ramin Djawadi, John Williams, atau Joe Hisashi dapat dipastikan akan menyukai musik-musik yang ada di album ini. Selain itu anda juga akan mendapatkan pengalaman mendengarkan yang baru, yaitu sentuhan 'Pleretian Sound' pada tembang-tembang bernuansa kolosal ini. Meskipun tidak dapat dipungkiri masih tertangkap dominasi hawa kebarat-baratan dari tiap lekuk bunyi dari album ini. Adapun nuansa lokal dapat anda rasakan dari penggunaan sample gamelan pada tembang '1565 Çaka' dan 'Echoes From The Past', dengan atmosfir 'Pleretian Sound' yang diselimutkan oleh dua pasang tangan milik pembuat soundtrack ini. Akhir kata, selamat meikmati rasa megah dari tembang-tembang ayng digarap secara minimalis ini. Salam.

Dec 20, 2015

EAR[70] - Sabarbar - Merry Go Round (2015)


Sudah lama sekali ya, telinga-telinga sekalian. Sepi sekali rasanya kemarin tidak apa-apa. Karena tidak ada kiriman maupun keluaran, kami memutuskan hanya membuka cabang saja kemarin, di sini. Dengan tiba-tiba seorang kawan lama mengirimkan karyanya kepada kami. Sabarbar namanya. Masih sama, dengan keunikannya yang begitu alamiah, beliau meramu 3 tembang untuk para pendengar. Dengan kualitas rekaman seadanya ini, Sabarbar mempresentasikan tembang-tembang baru yang kerap dibawakannya saat menjajaki panggung. Apabila orang-orang menyebut sebuah band prog/math memiliki unsur kejut dalam membuat hook-hook dalam lagu-lagunya, maka Sabarbar dengan permainan gitarnya didominasi riff-riff yang bluessy ini, juga memberi unsur kejut melalui hook-hook janggal dalam penulisan lagunya. Ada hal-hal umum yang dirangkai seperti dalam tembang 'Kolak Biji Salak', menceritakan tentang keberadaan biji salak, dan reaksinya atas keberadaan hal tersebut. Namun, rangkaian kata dalam tembang-tembang seperti 'Putri Duyung Tomboy' begitu berbeda, begitu fantastis, ganjil, dan anda akan menemukan unsur kejut yang kami sebut sebelumnya pada tembang ini. Berbeda dengan biasanya, Sabarbar membuat lagu dengan judul 'Kekasih Kafirku'. Sebuah tema yang cukup sensitif untuk ditembangkan, seperti kita ketahui bahwa tema ini juga pernah ditembangkan oleh Marcell Siahaan lewat Peri Cintaku. Versi pertembangan Marcell begitu puitis, menyiratkan maksud-maksudnya lewat tembang tersebut. Namun, Sabarbar bagai anak kecil yang polos, dengan sederhana dan tanpa berumit-rumit menembangkan tema ini. Memang jika kita perhatikan cara Sabarbar membuat lirik begitu bebas, tidak berumit-rumit, sesederhana anak yang bertanya pada ibunya, bagaimana dia dilahirkan. Hal tersebut akan menjadi tugas bagi orang yang ditanyai, untuk bisa menjawab dengan jelas, dan tanpa berumit-rumit, karena ini jawaban untuk anak-anak bukan? Temukan kesederhanaan, dan kepolosan dalam lagu-lagu Sabarbar, silahkan unduh rilisan ini. Mari.

Sep 13, 2015

EAR[69] - A-Tseng Fikrey & The Ladies - Sasa Bagara Malas Malas (2015)


Selamat. Selamat untuk anda semua. Kami menyapa anda kembali, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dengan sesuatu yang amat segar. Bukan main segarnya, merinding bukan main kami dibuatnya. Karya bebunyian dengan gaya bunyi yang jarang-jarang kami terbitkan di tempat ini. Jarang-jarang betul kami ini membicarakan musik. Memakai kata tersebut saja kami merasa segan dan kebingungan. Karena kami tidak mau terjebak dalam pretensi dalam ke 'sok paham-an' tentang musik. Khususnya dalam musik rock Indonesia. Sejarah musik rock Indonesia merupakan sebuah legenda yang melahirkan nama-nama kelompok bermusik yang gaungnya terdengar sampai ke luar Indonesia. Secara sederhana sejarah musik rock Indonesia, selain dari gaung bunyinya, juga mengisahkan gaya hidup pemusik-pemusiknya yang seronok dan panas. Obat-obatan, pertikaian, dan wanita tidak hanya sekedar menjadi bumbu dalam perjalanan musik rock Indonesia. Hal tersebut telah menjadi salah satu sentuhan utama dalam kontemplasi yang tidak dapat diragukan kemurniannya oleh para legenda musik rock lokal. Sehingga rasanya ada yang hilang apabila sentuhan tersebut diabsenkan keberadaannya dari karya musik rock Indonesia. Sentuhan tersebut seolah menjadi salah satu main ingredients yang membuat musik rock jenis ini, diakui menjadi sebagai salah satu sub jenis oleh setiap kaca mata bunyi-bunyian dari seluruh dunia. Dari pengalaman kami sendiri, di Indonesia, kelompok Rock N Roll modern belum ada yang kembali menghantam kami dengan begitu keras semenjak Suri dengan Gurun Nestapanya. Sebuah kesegaran yang panas, modern, baru, dan tidak sekedarnya. Mereka mampu sombong, dengan apa yang dibuatnya, menghantam dengan keras di dalam, bukan di luar. Pada pelepasan karya kali ini, kami seperti secara sekelebat melihat imajinasi kami akan suatu situasi dalam sejarah Indonesia. Anda tentu pernah mendengar nama bung Njoto dari Lekra bukan? Nah, rasanya kami seperti disuguhi kisah audio-visual, juga tekstual, tentang keberadaan rekaman kolaborasi bung tersebut dengan musisi kenamaan, Jack Lesmana. Kolaborasi dengan kontemplasi murni dari orang-orang yang hidup di zaman tersebut, yang direkam dengan menggunakan gaya bahasa dan gaya bermusik rock pada akhir 80-an atau awal 90-an. Suatu penggabungan kesopanan dalam kisah asmara menyimpang bung Njoto dengan seorang gadis Rusia, yang disajikan atau diceritakan kembali dengan model kenakalan pada era 90-an. Jika saja orang-orang tersebut masih hidup pada era 90-an, bisa saja hal tersebut terjadi, apa yang kami bayang-bayangkan- sebuah imajinasi. Sesuatu yang segar yang tidak hanya berhenti menjadi irama persembahan untuk seorang bung besar. Irama yang egois namun tak bisa ditolak dendangannya untuk membuat sekelompok orang menari bersama-sama.

Alkisah seorang pelajar yang menimba ilmu di kota pelajar, bertemu dengan teman-temannya yang bisa dibilang sepemahaman dalam membuat karya. Seorang Fajar Afdau yang bertemu dengan Wednes Mandra dan Judha Herdanta, yang kemudian membentuk aliansi bersama kawan-kawan sepermusikan yaitu Tatan, Pawitra, dan Yoga. Imajinasi itu terkumpul dalam album penuh dari A-Tseng Fikrey & The Ladies (AFTL) yang akan anda sekalian dengarkan sebentar lagi. Itu pun jika anda membaca tulisan ini. Tak diragukan lagi kemampuan menggubah musik rock yang kental dengan rasa Indonesia, apabila anda memiliki seorang pemusik yang berasal dari tanah borneo di dalam kelompok bermusik anda. Kami rasa Fajar telah berhasil mengambil peran tersebut dalam penggubahan musik milik AFTL. Setiap bassline-nya selalu menonjol dalam tiap tembang kelompok bermusik ini. Kami rasa, kami tidak salah jika kami bilang bahwa Fajar telah memberikan sumbangan yang besar untuk membuat musik rock khas Indonesia yang dimainkan oleh AFTL menjadi sesuatu yang avant-garde, jika dibandingkan dengan kelompok bermusik rock di Indonesia sekarang ini. Fajar tidak tahu apa-apa setahu kami, dia hanya memainkan bass-nya, membenturkannya dengan apa yang diinginkan oleh rekan sepermusikannya di dalam AFTL. Sebuah benturan yang diingankan. Begitu juga, tak perlu diragukan lagi, kemampuan untuk memberikan sentuhan khas yang konsisten dari tiap proyek musik yang dibuatnya. Gabungan Wednes, Judha, dan Pawitra berhasil mempertahankan warna, rasa, dan cuaca bermusik yang khas wilayah selatan Yogyakarta. Pleretian sound, Bantulian sound, atau the sound of Kidul yang kami rasai pada karya-karya yang sebelumnya mereka buat tentu berhasil membuat tembang-tembang dalam album ini menjadi ekstasi, serta obat rindu bagi para pihak yang pernah tersentuh oleh gaya bermusik mereka. Tentu saja kami merupakan salah satu  dari pihak tersebut, dan juga anda yang merasakan hal yang sama. Hal yang baru pada penggubahan tembang-tembang ini adalah bergabungnya Tatan dan Yoga dalam kelompok bermusik ini. Tatan berhasil memberikan sentuhan sederhana dari tiap tuts keyboard yang ia tekan. Tak diragukan bahwa Tatan telah dengan sukses membaca naluri dari Wednes, Judha, Pawitra, dan Fajar, yang kemudian dengan sukses memasukan nalurinya sendiri ke dalam tiap tembang AFTL. Sehingga membuahkan hasil yang manis meskipun tidak bermoril. Begitu juga dengan Yoga. Kehadirannya tentu juga kami nantikan dalam tiap gubahan tembang AFTL. Keberadaannya pernah kami bayangkan dalam satu obrolan kami dengan bung besar Wednes Mandra. Di dalam obrolan tersebut kami membayangkan penggabungan musik rock Indonesia dari kontemplasi murni AFTL sendiri, dengan idola-idola kami di luar Indonesia seperti Nick Cave dengan The Birthday Pary/The Bad Seeds/Grinderman-nya, juga Michael Gira dengan Swans dan David Bowie dengan karya-karyanya, namun tetap bersandar pada seuatu yang sangat 'biasa' namun mempunyai wajahnya sendiri, mungkin kalau kami (Ear Alert) boleh memberikan contoh, kami memikirkan kelompok bermusik seperti Naif atau Golden Wing.

Obsesi Wednes Mandra terhadap hal-hal yang terjadi pada dunia kenakalan pria dewasa, berhasil membuat tembang-tembang yang bukan main kedahyatan dan kedewasaannya. Namun nuansa semangat jiwa muda dari tembang-tembang tersebut tetap terasa. Dewasa bukan berarti menjadi tua kan? Orang-orang dewasa yang melakukan kenakalan seperti yang dikisahkan dalam tembang-tembang AFTL, biasanya merupakan orang-orang dewasa yang enggan menjadi tua, yang merindukan dan selalu menggenggam erat energi jiwa mudanya, seuatu yang ada dibalik kedewasaan, sesuatu yang keras, sekaligus lembuat, dan pliket. Tembang untuk para dewasa yang meneteskan keringat-keringat kemudaan. Kekuatan Wednes Mandra dalam penulisan lirik pun tak bisa disangkal menjadi sumbangan yang berarti untuk mewujudkan obsesinya tersebut ke dalam musik. Kalau boleh berimajinasi lagi, kami seperti melihat Slank yang kembali nakal, dalam tembang 'American Style'-nya, dimainkan berkali-kali dengan kisah-kisah yang berbeda oleh AFTL. Kelompok bermusik ini tidak malu memberikan sentuhan yang benar-benar lokal dalam musik rock Indonesia biasa yang sedang mereka bangkitkan. Coba anda dengarkan lagu berjudul 'Hidup Dangdut Terlarang' atau 'Ani Hijab Seksi', anda mungkin akan memahami apa yang kami maksud dengan sentuhan yang benar-benar lokal. Benar-benar fantastis. Keberadaan tembang-tembang seperti, 'Tresna Srenggala', 'Buas Birahinya' dan 'Kan Kujaga Nyala Api Cinta Ini', membuat kami terjaga dan sadar bahwa kelompok bermusik ini telah melahirkan sebuah kesempurnaan melalui album ini. Semua sentuhan khas musik rock Indonesia ada pada album ini. Suasana nakal: apatis atau egois tersebut, diturunkan pada sebuah refleksi dalam kontemplasi yang diwujudkan melalui tembang-tembang yang sifatnya balada. Mungkin anda juga menyadarinya, kalau tiap kelompok bermusik rock Indonesia selain membuat tembang yang keras, mereka juga membuat satu atau dua tembang lembut yang tidak tanggung-tanggung nuansa galau dalam liriknya, serta kesempurnaan dalam kengelangutan gubahan musiknya. Begitu sempurna. Semua sentuhan itu ada dari AFTL. Sempurna. 

Begitulah sejauh ini apa yang kami lihat dari AFTL. Dengan tidak mengurangi rasa hormat untuk tidak peduli pada habitat para ilmuwan (meminjam istilah dari Doyz) yang tidak bosannya meributkan dan merisaukan masa depan musik 'indie' Indonesia, kelompok-kelompok bermusik seperti AFTL, Polka Wars, Vague, Sore, dan Zoo dengan tidak banyak 'cing-cong' telah sukses menelurkan karya-karya musik rock yang segar. Kami tidak mau masuk ke dalam kerisauan dan keributan tersebut, karena bagi kami post-indie dan segala obrolan tentang hal tersebut adalah omong kosong belaka, kami menyebut segala kontemplasi suara tersebut sebagai garda depan, tidak ada menang kalah, suatu hal yang sangat biasa, dengan cara menikmati yang unggul, selalu dapat menjadi hal yang luar biasa. Hal biasa, adalah hal yang luar biasa. Kami adalah anak serigala, berpesta pora dan bersahaja. Kami memburu dan menumpahkan cinta. Dengarkan auman perawan dari para srenggala yang mabuk oleh cinta. Lampiaskan nafsumu, Ladies...


Sep 11, 2015

EAR[67]+EAR[68] - Digi Digi Crazy - Mesin Penggusur Sawah Pak Tani + dadbardar - HHE VSCOCAM HHE (2015)














Jangan kaget. Kemarin kami sudah bilang bukan? Kalau kami membuat agenda selama 3 hari. Agenda tersebut ada untuk melepas karya-karya yang sudah lama kami simpan, dan satu karya terbaru pada hari terakhir. Meskipun pada awalnya kami bilang 3 hari secara berurutan, namun nampaknya kami akan memberikan waktu rehat pada hari Sabtu, kemudian kembali melepas karya pada hari Minggu. Begitu saja. Sederhana sekali.

Digi Digi Crazy (DDC) merupakan salah satu kawan lama kami, yang sudah begitu lama tidak menitipkan karyanya di sini. Kini proyek bunyi buatan mesin, yang juga menceritakan mesin pada hentak bunyinya, kembali dengan nuansa yang berbeda. Dulu kami pernah bilang ada kesan seperti tertawa yang tidak lepas pada karya DDC sebelumnya. Kali ini sang pencipta suasana futuristik ugal-ugalan ini tidak melupakan nilai-nilai negeri yang agraris untuk diikut sertakan pada karyanya. DDC menumbuhkan rasa cinta pada suasana dan imajinasi tentang masa depan yang sarat akan kemajuan dalam bidang teknologi, dengan tidak melupakan rasa cinta kepada hal-hal yang akan dihadapi oleh teknologi tersebut. Dengan suatu gambaran sederhana, tentang nuansa mutualisme yang terjadi antara industri dengan apa yang kita sebut-sebut alam. Hubungan antara traktor dengan sawah. Hubungan yang saling menguntungkan. Coba ciptakan hubungan seperti itu saja di kemudian hari. Masa depan bukan berarti tentang kiamat bukan? Gedung menjulang bukan berarti akhir dari segalanya kan? Coba buatlah industri dan alam, seperti traktor dan sawah itu, hubungan yang saling menguntungkan. Hubungan yang melahirkan keuntungan. Untuk semuanya. Kemudian, persembahan selanjutnya berasal dari salah seorang pentolan dari proyek Desperate Zebra, Dadad, yang menggunakan kesempatannya dalam sebungkus karya ini untuk berkolaborasi dengan Sabarbar. Sabarbar merupakan pemusik yang berhasil membuat sebuah penanda dalam permainannya. Beliau dengan tidak disengaja telah membuat ciri khas, sebagai tanda pengenal ketika Akbar Adi Wibowo memainkan gitarnya. Bagi anda sekalian yang telah mengenali ciri khas dalam permainan gitar Sabarbar, maka anda akan mendapati sensasi yang lain. Garukan-garukan yang dilepaskan Sabarbar pada senar-senar gitar pada karya ini diiringi oleh gaya bernyanyi Dadad, bukan gaya bernyanyi Sabarbar, apakah Sabarbar bernyanyi? Tidak tahu. Begitu juga sebaliknya, pada pola permainan gitar Dadad, Sabarbar mengiringinya, dengan apa yang bisa ia buat untuk mengisi dawai-dawai Dadad. Menjadi Avant-Garde tak harus megah, dan jarang yang disengaja, dan belum tentu bakal terkenal lho... kami persembahkan pada tengah malam ini, paket karya dari DDC dan dadbardar. Silahkan.

Sep 10, 2015

EAR[65]+EAR[66] - Sampar - Demo I + Black Lempung - Metal (2015)

 












Halo sobat semua. Tak terasa ya, rasanya baru kapan kita berjumpa, namun kami harap anda semua tetap dalam keadaan bersuka. Bagaimana dengan pencuci telinga yang kemarin? Sudah anda sekalian dengarkan dengan seksama? Tentunya sudah dong ya kecuali telinga anda tersumpal. Sebenarnya kami tidak bermaksud untuk melepaskan karya-karya yang dititipkan kepada kami dalam jangka waktu yang berdekatan, atau bahkan berderetan. Namun, hutang adalah hutang. Sudah lama karya-karya ini tersimpan di gudang arsip kami, dan sudah lama sekali sebenarnya ingin kami lepas kepada anda sekalian. Namun apa daya, pengelolaan waktu kami begitu kacau kemarin. Banyak terapi yang harus diikuti demi menghilangkan salah satu kebiasaan buruk kami. Namun hilang satu kebiasaan buruk, kebiasaan buruk yang satunya malah menjadi-jadi. Hingga karya-karya ini dilepaskan terlambat sekali. Mohon maaf sekali lagi ya. Memang, sudah menjadi tugas manusia untuk dapat memperoleh keseimbangan dalam hidupnya. Dalam proses berterapi kerap kami menyimpulkan bahwa tidak apa-apa membiarkan kebiasaan buruk itu tetap ada, namun tetap harus ada ukurannya. Demi meraih keseimbangan. Yang penting adalah kestabilan. Hingga waktu akhirnya menjawab kapan sepi itu tiba. Yak.

Yang pertama adalah proyek solo dari Johanes Handjono (Maur/Trio EnRio), sebagai Sampar dan proyek Bantulian Death Metal misterius bernama Black Lempung. Musisi, atau sederhananya, orang yang bisa bermain alat musik selalu dapat mengisi wahana kesenggangannya dengan melahirkan karya-karya sederhana yang begitu menggugah. Seperti menonton serial animasi dengan genre 'Slice Of Life'. Letak kemenggugahannya itu, kami rasa, ada pada segi kesederhanaan. Sederhana dalam pengemasan, perekaman, maupun penggubahan. Karya yang dibuat dengan sedikit bercepat-cepat, dan direkam ketika semangat untuk bersenggang-senggang bersama musik sedang membara. Dengan meraba-raba tentang apa yang ada dibalik karya-karya ini, dengan tidak hanya berhenti pada proses pendengaran saja, kami merasa bisa sangat menerima karya-karya ini bagaimanapun bentuk keluarannya. Kami seolah dapat pula menikmati kesenggangan itu. Karena kesenggangan itu kenikmatan. Sesuatu yang anda sekalian idamkan bukan? Baiklah, mumpung sedang senggang, nikmatilah sajian ini. Sampar dan Black Lempung dari Ear Alert.


N.B.: Pada hari Jumaat hingga hari Sabtu/Minggu kedepan kami akan melepaskan kembali karya-karya yang tersimpan.Ini adalah agenda yang kami rencanakan pada akhir pekan ini. Semoga bisa terlaksana dengan lancar. Mari rayakan 3 hari mulai hari ini bersama Ear Alert. Salam!

Aug 31, 2015

EAR[64] - Seahoarse - Live at Appleseed (2015)


Halo. Kemarin memang agak kacau. Mohon maaf kami hanya diam saja tidak ada informasi apa-apa. Banyak terapi yang harus dijalani setelah kejatuhan-kejatuhan yang kami alami kemarin. Bursa saham kurang sehat. Kotoran telinga terlalu banyak. 'Pembersih' telinga banyak yang kurang cocok. Seperti apa yang diungkapkan oleh video pada tautan berikut ini. Yah, hampir sama dengan apa yang akhir-akhir ini kami lihat pada bursa kelahiran kembali keberadaan band-band yang musiknya kami suka dan rindu. Brilliant at Breakfast, Annemarie, Klarinet, ataupun Clover. Belum lama Beberapa waktu yang lalu, antara lama dan tidak lama, ada kehadiran band-band seperti Sex Sux, Lazy Room, Bedchamber, lagu terbaru Talking Coasty, dan sekarang Gizpel. Tidak begitu lama juga kami mendapati informasi bahwa di tempat yang kami pijaki ini, keberadaan tersebut sepertinya akan terlahir kembali. Kami dapati informasi ini dideteksi oleh radar kami: bahwa Seahoarse ini memiliki potensi tersebut. Potensi untuk melahirkan kembali apa-apa yang kami rindui dari keberadaan-keberadaan lama yang telah pergi.


Seahoarse mengikut sertakan 2 lagu buatannya sendiri dan 3 lagu cover version dari Seapony, Deerhunter, dan Melody's Echo Chamber. Memang kalau dilihat secara sekelebat tidak ada benang merah dari 3 band yang mereka bawakan kembali lagunya tersebut. Namun 3 lagu ini dibawakan pada panggung pertama kali Seahorase tampil, tempat mereka merekam rekaman demonstrasi ini, sebuah acara bertajuk Appleseed. Sehingga bisa kami simpulkan bahwa dengan mengabaikan ukuran benang merah yang sekelebat itu, dan langsung berfokus pada siapa yang membawakan lagu-lagu tersebut, secara manis anda akan mendapatkan rasa optimis untuk tetap menyimak apa yang kemudian akan dibawakan oleh band ini. Tapi ada benarnya juga anda mengabaikan tembang-tembang band lain yang coba mereka bawakan dan ikut sertakan dalam rekaman ini. Kami rekomendasikan anda untuk langsung mendengar tembang favorit kami dari album demonstrasi ini, 'Sugar Cave'. Ah. Gila. Apakah ini kebetulan? Kecelakaan? Karena memang kami akui bahwa lagu Across the Table memang awalan yang asik, namun dari segi tempo dan kebaruan, mungkin bukan sesuatu yang hookfull bagi kami. Namun, tembang 'Sugar Cave' ini memiliki sesuatu, benar-benar memiliki sesuatu jika anda rasai apa yang bisa kami rasai. Jika anda-anda sekalian memahami apa yang kami maksud dengan kerinduan atas keberadaan band-band yang kami sebut di atas. Kami begitu rindu. Dan dengan adanya tembang seperti 'Sugar Cave' pada rekaman demonstrasi dari yang dibuat oleh Seahoarse ini, yang sepertinya keempat personilnya (Gisa, Maham, Adit, dan Rudi) ini juga baru pertama kali berada pada band yang sama, Seahoarse kami nilai memiliki potensi tentang sesuatu yang kami rindui tersebut di masa depan. Meskipun kami tentu saja tidak memaksakan ekspektasi ini pada kontemplasi dan masturbasi terhadap band yang kami sukai, egois sekali. Sepertinya tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Begitu sederhana dan memiliki potensi kemanisan dan potensi untuk dirindukan, sampai kami merasa cukup untuk bicara, merasa harus menahan diri untuk meracau, dan dengan segala rendah hati akan segera mempersilahkan anda-anda sekalian untuk menyentuhkan telinga anda pada rilisan ini. Silahkan.

Jul 13, 2015

EAR[63] - Asangata - Sampun The Last (2015)


Berkaitan dengan dirilisanya album Sampun The Last dari Asangata pada MP3 Day, yang juga Netlabel Day, yang berbahagia ini berikut kami sampaikan sepenggal pesan yang dititipkan oleh bos besar PT. Ear Alert Records beberapa hari yang lalu, yang ditujukan kepada para pengikut sekalian:

"MP3 Day atau hari MP3 berarti hari dimana para pengguna MP3 merayakan keberadaan format tersebut. Bukan hal yang aneh, mengingat begitu banyak hari raya yang diadakan dan diperingati oleh orang-orang. Saya rasa semenjak saya mulai mengenal format tersebut hingga sekarang, setiap hari saya senantiasa merayakan MP3. Saya rasa, saya sudah merayakan MP3 semenjak saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama dengan membeli CD-CD bajakan yang menyuguhkan begitu banyak album musik dalam satu CD dalam format MP3. Kemudian saya mulai akrab dengan teknologi internet, dimana saya dapat mengakses album-album musik dengan mengunduhnya lewat aplikasi seperti Ares dan Soulseek, atau dari blog-blog yang mengunggah album-album musik tersebut. Hampir setiap hari saya mendengarkan album-album musik, yang kebanyakan formatnya adalah MP3. Hampir setiap hari, tanpa mengetahui bahwa tanggal 14 Juli adalah hari peringatan MP3, saya telah senantiasa merayakan kehadiran MP3.  

Perayaan format MP3 tersebut kini dibarengi dengan diadakannya peringatan Netlabel Day. Hari untuk merayakan label rekaman yang merilis karya-karya musik dalam format elektronik. Netlabel sendiri bukan suatu hal yang baru bagi saya, sebagai seorang konsumen musik dalam format elektronik. Apabila sekarang saya masih berada pada posisi itu saja, mungkin saya akan melewati tanggal tersebut sama seperti hari-hari lainnya. Namun, kini saya akan melalui tanggal tersebut sebagai salah seorang pengelola Netlabel. Ada rasa mendebarkan, karena saya menjadi peserta diperingatinya hari Netlabel. Hampir sama mendebarkannya dengan ketika saya ikut serta merayakan Indonesian Net Audio Fest untuk pertama kali. Mirip dengan Record Store Day, Netlabel Day dirayakan oleh pihak label rekaman dengan mengunggah album musik yang secara khusus akan dirilis pada hari tersebut. Perbedaannya, rekaman musik dalam format fisik yang dirilis di Record Store Day memiliki keterbatasan jumlah, sedangkan rekaman musik dalam format elektronik yang dirilis pada Netlabel Day jumlahnya tidak terbatas. Saya belum tau hal-hal yang membuat Netlabel Day berbeda dengan Records Store Day ketika bentuk perayaannya sama-sama dikehendaki dengan perilisan suatu album musik. Saya juga belum tau akan seistimewa apa Netlabel day nantinya. Hal ini sama barunya untuk saya, dan anda. Yaitu hari dimana di dalam satu hari tersebut, tautan unduh dibagikan, musik disebarkan, dan bandwdith-bandwidth yang dimakan. Mari, sama-sama kita lihat apa yang akan terjadi di Netlabel Day."

Demikian sepenggal pesan terkait dengan Netlabel Day/MP3 Day dari bos besar kami sampaikan. Beralih ke Asangata dengan Sampun The Last-nya. Asangata, di hari yang berbahagia ini, juga membuat perayaannya sendiri. Perayaan tentang berakhirnya sebuah keberadaan. Lewat album ini duo romantis ini hendak menyatakan bahwa perjalanan mereka di dunia bebunyian sudah berakhir. Walaupun kita juga tahu bahwa Pawitra Warda dan Wednes Mandra masih membuat musik bersama di Atseng Fikrey & The Ladies yang sekarang sedang menempuh proses rekaman. Kita doakan semoga proses rekaman mereka lancar-lancar saja. Namun, peneluran karya-karya musik mistik yang sarat akan aroma dan wewarnaan khas dari Pleret sudah berakhir. Apakah ini akhir dari "Pleretian Sound"? Apakah ini akhir dari Asangata? Kita tidak pernah tahu, pendiri dari kolektif ini sendiri, Wednes Mandra, merupakan manusia yang penuh dengan kejutan. Bisa saja ia nantinya akan membuat karya dengan nuansa gelap lewat wadah yang lain. Tetapi itu buatan dan kepunyaannya sendiri, bukan Asangata. Asangata sedari dulu selalu dapat memberikan gambaran kesederhanaan pada tiap karya yang dibuatnya. Kesederhanaan yang menyiratkan pengalaman-pengalaman mereka dalam membuat karya, yang memberi nuansa pada karya tersebut untuk menjadi sederhana pula. Sebuah kemuliaan, karya-karya yang sarat akan pesan. 

Berdasarkan apa yang kami amati dari karya-karya mereka sebelumnya, Asangata tidak pernah asal begitu saja ketika harus memberi judul pada karya-karyanya. Yang menurut kami hal tersebut merupakan suatu totalitas dalam berkontemplasi. Belum lagi tiap-tiap nuansa Pleret yang bisa kita-kita rasakan dari tiap bebunyiannya. Juga tanpa melupakan pesan yang tersampaikan lewat judul, dari karya-karya yang tanpa "lirik" ini. Asangata berkarya lagi, untuk menyongsong sebuah akhir. Yang sebenarnya akhir juga bukan milik kita. Kita tidak pernah tahu, bukan hak kita kita untuk mengakhiri sebenarnya, karena kita memang terus menunggu. Namun, kali ini Asangata dengan tegas mencoba membuat sebuah akhir sebagai sepasang manusia, dengan mengeluarkan album bertajuk "Sampun The Last". Di dalam album ini kita akan masih disuguhi tajuk-tajuk karya yang sederhana seperti "Sweet Pop", "Wkwkwkwk", dan "Berdoa... Mulai". Dari judul-judul karya, juga besutan bunyi yang akan anda dengarkan ini, kami berani menobatkan bahwa Asangata merupakan garda depan dari generasi dan lingkaran gaya musiknya. Dalam artian yang paling minimalis tentunya. Komposisi dari tiap tembang yang dibuat sudah tidak melekat pada aspek-aspek tuntutan sejarah musik Drone/Doom yang dikristalisasikan lewat karya-karya dari Sun O))), Khanate, atau Corrupted. Entah ide ini dicetuskan oleh Wednes atau Pawitra, karena banyak kami temukan warna dan lekuk baru yang mereka terapkan pada genre yang dari awal mereka usung. Dimana hal tersebut membuat album ini bukan sembarang album Drone/Doom, dengan tanpa mengurangi rasa hormat yang lebih tua, yang sudah banyak ada. Kami merasa terangkat dan mengawang seperti ketika kami mendengarkan tembang-tembang yang dibuat duo Bianca dan Sierra dari Cocorosie. Tidak sama persis, cuma mengingatkan, tidak bermaksud memiripkan. Malahan, tembang yang kami jagokan dari album ini adalah tembang bertajuk "Suatu Saat, Kita Akan Meninggalkan Ini Semua". Dengarkan sendiri. "Pleretian Sound" besutan sahabat kami. Sebentar lagi anda sekalian akan bertemu dengan tautan unduh album ini. Yak, sekarang.

Asangata sudah tidak ada lagi.

Jul 7, 2015

EAR[61]+EAR[62] - Yours, Fantom Delivering - Cold Eyes EP + Joyful Summer - I E Y A I A H Y D I T M F - (2015)

Kejutan! Ini kejutan dari kami, dua rilisan sekaligus, dengan corak bunyi yang hampir sama. Bunyi-bunyi yang nampaknya layak untuk dijadikan teman sambil menunggu waktu berbuka puasa tiba. Meskipun tidak dikirimkan kepada kami secara bersamaan, tidak dapat dipungkiri kedua rilisan ini memiliki kesamaan. Kesamaannya terletak pada sisi kesederhanaan. Tidak sekedar sederhana, keduanya selalu menawarkan kesegaran. Bukan kesegaran "ide" yang dinanti orang-orang yang berpandangan bahwa bermusik sama dengan bersekolah, bukan ya. Gagasannya sudah banyak dilakukan juga oleh banyak bedroom musician. Kelahirannya pun, mugkin, tidak didasari oleh gagasan-gagasan yang hingar bingar, cukup dengan tekad dan keinginan, kemudian lahir bunyi-bunyi yang sarat dengan kesederhanaan. Begitu sederhana dalam proses dan keluarannya. Tidak memberi beban yang begitu berat bagi pendengar-pendengarnya, easy-listening, orang-orang bilang. Akhir-akhir ini hadir suatu pemikiran di kepala kami: bahwa musik yang easy-listening, tidak berhenti pada musik dengan genre: New Age, Ambient, Folk/Traditional, etc. Karena, jika anda mengamati di situs seperti last.fm, kata easy-listening tersebut sepertinya sudah dibekukan menjadi sebuah genre musik. Sisi easy-listening dari musik dapat kita temukan dari semudah apa, musik dengan apapun genre-nya tersebut, untuk dapat diterima oleh para pendengarnya. Sebagai pembanding, musik yang tergolong keras sekalipun seperti hardcore-punk, buat kami termasuk sebagai musik yang easy-listening. Sederhana dalam peracikan aransemennya, penulisan lirik, pemberian judul lagu, dan peleburan emosi: menghasilkan sesuatu mudah dicerna (didengarkan-Red). Setiap unsur dari pembuatan lagu tersebut, ketika telah dileburkan ke dalam sebuah lagu, begitu mudah untuk dirasakan kehadirannya oleh pendengar karena pola-polanya yang begitu sederhana. Seperti yang akan anda dengarkan ini, dari Joyful Summer dan Yours, Fantom Delivering. Sesederhana menikmati es kopyor yang baru keluar dari kulkas di saat berbuka. Sesederhana saat kita menyantap sayur lodeh yang baru dipanaskan di waktu sahur. Sederhana dan apa adanya. Yah, ada saatnya kita mau mendengarkan musik yang sederhana atau yang tidak sederhana. Bukan berarti salah satu dari mereka merupakan hal yang buruk, bukan. Pada akhirnya, anda yang menentukan. Silahkan.

Joyful Summer

Jun 25, 2015

EAR[60] - Sabarbar - Terror Seekor Naga Mengerikan (2015)


"Album ini saya buat gratis supaya fans Sabarbar yang miskin juga bisa ikut menikmati album ini"
Sabarbar

Halo, apa kabar semuanya? Baru saja kita dipertemukan lewat sebuah upacara persembahan karya, kali ini juga kita dipertemukan, dalam ritual persembahan yang sama. Sebelum memulai semuanya, pada bulan Ramadhan yang penuh berkah ini kami ingin menghaturkan beribu maaf terlebih dahulu kepada anda semuanya untuk segala kesalahan kami. Seperti yang anda sekalian bisa lihat pada kutipan di atas, Sabarbar kali ini mempersembahkan karyanya sebagai sodaqoh kepada penggemar-penggemarnya. Di bulan yang penuh ampunan ini rupanya Sabarbar, selain dengan niat tulusnya untuk menghibur lewat tiap tembang yang ia ciptakan, ia juga menargetkan karyanya ini untuk dikonsumsi oleh penggemar-penggemarnya yang kurang mampu. Sabarbar tahu betul bagaimana memanfaatkan karya-karyanya sebagai 'harta' yang dapat disumbangkan kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan. Butuh hiburan. Walaupun ia memang begitu konsisten, sebelumnya, dalam hal mendistribusikan karyanya secara gratis. Kami pun sepaham dengan bung Sabarbar, dan kami rasa tembang-tembangnya yang ringan, jenaka, dan inspiratif ini dapat menjadi penghibur yang tepat di sela-sela waktu para pendengar yang sedang menunaikan ibadah puasa. Lagu ciptaan beliau ini, kami rasa mampu membuat pendengar yang sedang menahan lapar dan dahaga, sejenak melupakan hal-hal tersebut, kemudian terkekeh, dan teringat akan betapa sederhananya hidup ini. Apalagi kalau pendengar sekalian menyimak tembang berjudul "Salah Minum Salah Makan", yang sarat akan peringatan agar tidak ceroboh ketika mengkonsumsi hidangan. Buah kecerobohan tersebut dapat menggagalkan mood bersantap kita yang indah, karena salah makan. Mengingat bahwa momen bersantap di bulan Ramadhan ini menjadi hal yang krusial, yaitu waktu berbuka puasa dan waktu sahur. Sekilas kita juga jadi teringat betapa krusialnya isu tentang santap menyantap makanan yang mengundang perdebatan tentnag boleh tidaknya warung-warung beroperasi pada siang hari. Mari, lemaskan sejenak, dengarkan Sabarbar, renungkan kemudian, betapa sederhananya hidup ini. Wassalam.

N.B.: Format fisik album ini pernah dirilis oleh A Room With A View Records dengan packaging yang luar biasa ciamik. Kualitas auido dari rekaman ini juga merupakan versi perbaruan dari temabng-tembang lama gubahan Sabarbar. Pun terdapat 2 tembang baru yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya. Selamat menikmati.