Mar 4, 2015

EAR[55] - Wednes Mandra - Hikmah Tersembunyi (2015)

 

Selamat malam. Kali selamat malam saja. Suasana petang tanpa secercah temaram pun, sedang kami butuhkan demi satu pelepasan ini. Tidak terlalu butuh-butuh amat sebenarnya, biasa saja, cuma kami rasa mungkin cocok saja. Entah itu mungkin strategi pemasaran dari kami saja, atau memang bawah sadar yang selalu bisa terbuka kapan saja ini dengan naifnya membutuhkan suasana tersebut. Karena tak bisa disangkal bahwa bawah sadar itu nyata adanya, kesedihan itu nyata, dan air mata itu adalah anugerah. Maka, jangan pernah berhenti menangis. Menangislah. Sebentar dulu, kami sekarang ingin bertanya, kenapa gelap itu selalu ada pada saat malam hari saja? Hampir semua sudut begitu sepi, bahkan sejilat desis pun tak bersuara. Lembaran malam itu seakan tidak ada gunanya ketika meskipun gelap dan menakutkan, tapi kita masih setia terbangun. Ketika lembaran malam ditukar dengan pagi, siang, atau sore, sebenarnya sama saja. Karena ketika bawah sedar terus terbuka, dan merenung terus menyala, gelap pasti setia menyapa. Wajar saja kan mengada-ada? Toh ini hanya ungkapan alam pikiran yang tak pernah merasa lunas hutangnya untuk terus mabuk dan memuntahkan biji-bijinya yang begitu tidak sedap baunya. Sebuah dimensi pikiran, yang tidak memuaskan, yang tidak menghadirkan apa-apa, hanya kebuntuan, dari kebuntuan itu lah, bawah sadar tercipta untuk tersambung dengan lubang lain, lubang yang dapat merangsang lahirnya suatu penglihatan atau rasa percaya tentang keberadaan suatu ruang, yang lahir dari dimensi pendengaran. Terus dan terus mengada-ada. Sampai buntu dan jengah. Asu. Malam ini, akan menjadi sangat istimewa kami rasa, dengan jasa yang disediakan paket yang akan kami lepas berikut ini, paket super lengkap dari seorang pangeran dari Kerajaan Pleret, si Wednes Mandra. Manusia adalah makhluk yang terus menerus berkeluh kesah,  yang artinya hampir tidak pernah mereka bisa membuat perdamaian pada setiap pergolakan yang muncul di dalam hatinya. Siapapun itu, tak ada yang bisa menyangkal, se(tampak)bodoh apapun kristalisasinya. 

Ketika kami membicarakan soal malam, dan kegelapan yang lahir dari tiap renungan, kami jadi berpikir, kenapa sinetron-sinetron (Sinema Elektronik) selalu ditayangkan pada waktu malam (meskipun belum malam sekali) dan hampir semuanya berakhir pada pukul 9 (sembilan) malam, kemudian para penontonnya beristirahat. Adakah kristalisai pergolakan hati berupa sinetron yang diciptakan oleh seseorang atau sekelompok orang tersebut memiliki hubungan dengan lembaran malam yang sebenarnya begitu mencekam. Waktu atau penanda pergantian sebuah periode dimana manusia-manusia kelelahan setelah mencurahkan tenaganya kepada pagi dan siang, yang puncaknya kepada sore, dan kemudian tenang kepada malam. Ketenangan yang penuh renungan, begitu kosong para manusia itu menatap layar-layar persembahan pencipta kristalisasi yang tak jauh daripergolakan hati. Benar-benar mencekam, pertemuan kedua subyek penanggung pergolakan hati, dimana yang satu buntu butuh, dan yang satunya buntu sembah (memberikan persembahan). Benar-benar gila. Kembali pada sinetron, beberapa tembang-tembang yang dipersembahkan oleh Wednes Mandra, dan seorang kawannya Tansari Dewi Hapsari ini mengingatkan kami pada 'kemencekaman' waktu malam yang dihiasi dengan kristalisasi-kristalisasi pergolakan hati berupa sinetron, tembang-tembang ini rasanya seperti suatu pengiring berupa bunyi yang menghantarkan para penikmat tayangan menuju menu utama yaitu tayangan yang isinya berupa sajian jalan cerita dari sinetron itu sendiri. Tetapi, tembang-tembang seperti 'Menarilah di Surga' dan 'Ndlogok' ini secara spesifik lagi, membawa kami pada sebuah kenangan mencekam pada masa kecil kami pribadi. Kenangan tentang bagaimana kami berkumpul bersama orang satu rumah untuk menyaksikan tayangan-tayangan seperti 'Tersanjung' atau 'Wah Cantiknya', untuk kemudian menuntaskan kewajiban yaitu tidur tepat pada pukul sembilan malam. Ingat, itu kewajiban, mencekam bukan? Harus memejamkan mata untuk terkulai menutup atas/bawah sadar demi menuju waktu pagi yang tak diingini, padahal dalam perjalan menuju waktu pagi tersebut, kegelapan dalam pejam mata kami ini masih disinari kabut-kabut terang yaitu kisah-kisah yang kami tuntaskan tadi bersama orang serumah. Tembang-tembang lain pun tak jauh pula aromanya dari (mungkin) sinetron-sinetron yang disiarkan pada waktu sore maupun waktu sore menuju malam, masih ada sinarnya lah. enak. Tak boleh lupa diungkap juga, aroma percintaan yang gelap-terangnya begitu pekat dan terpancar dari tiap harmonisasi dan keterpaduan pada tiap alunan tembang dalam album ini, sensasi kesederhanaan yang berbeda-beda rasanya dari tiap tembang, dan alam 'Pleretian Sound' yang tak dapat kita pungkiri eksistensinya dari tiap karya-karya yang dikirimkan dari trah Pleret. Benar-benar luar biasa menariknya. Merugi sudah para telinga yang melewatkan untuk mengias dimensi pendengarannya dengan taburan cinta, renungan, kegelapan, dan kenangan yang bisa dilahirkan dengan mendengarkan tembang-tembang berikut ini, kalian akan kehilangan kesempatan untuk merasakan dan menciptakan sensasi itu sendiri, pada dimensi pendengaran kalian yang buntunya tiada ampun itu. Kami bicara begitu bukan bermaksud menghina bung, bisa saja ini strategi promosi kan? Jadi jangan emosi dulu bung, santai saja, dengarkan dulu, secukupnya saja, jangan kebanyakan, karena cinta pun kalau terlalu banyak tak nikmat juga rasanya. Ayo, jangan sungkan-sungkan, silahkan, didengarkan. Salam.

1 comment: