Oct 23, 2014

EAR[51] - Pleretian - Tapa Ngalong (2014)


Menyapa. Kami menyapa. Kami menyapa lagi kalian semua, dengan sungguh-sungguh kami menyapa, tanpa mengindahkan perubahan wujud dari kata sapa, kami menyapa. Kami menyapa kalian semua sekarang. Menyapa. Meskipun itu hanya bahasa, dan toh itu hanya bahasa, karena ketika kami menulis atau dengan modern disebut dengan mengetik, bukan jari atau pena yang kami gunakan, dan bukan buku yang kami terbangkan. Kotoran telinga itu baunya harum, jenderal. Ada lagi satu persembahan yang ingin kami layangkan pada anda-anda sekalian "telinga" (dalam citra suara maupun dalam konsepnya), yang mana tidak berhenti dalam fungsinya sebagai penanda dan petanda saja, tapi lebih kepada fungsi pendengarannya yang mengarung dalam kelebatan dimensional alam fikir dan iman. Itu tadi penjelasan dari buah niat kami dalam mempersembahkan hal seperti ini, lalu untuk kronologi cerita dari persembahannya adalah sebagai berikut : jadi sebetulnya waktu kami sedang melakukan kewajiban kami untuk membudidayakan tanaman Telinga Manusia di perbukitan earmogeary sana, yang diharapkan dapat membantu perekonomian warga yang tinggal di Earmogeary sana, tepatnya di desa Gearearejo, tetiba kami mendapat satu paket kiriman yang sudah tercium kegurihannya dengan melihat nama pengirimnya, ya, kiriman ini di kirim jauh dari kerajaan Pleret sana oleh sang Pangeran Pleret sendiri, Wednes Mandra. Dalam paket tersebut juga dituliskan bahwa bunyi-bunyi yang dikirimkan oleh beliau ini kalau bisa disebarkan oleh kami, dengan segera. Namun apa daya kewajiban kami untuk mengabdi kepada masyarakat Gearearejo, sehingga kami utarakan pada beliau kami baru bisa dengan maksimal membantu dalam persebaran bebunyian tersebut sekitar bulan sembilan atau sepuluh. Namun, karena yang kelegaan hakiki pelahir bunyi adalah ketika karya tersebut dilemparkan menuju dimensi-dimensi pertemuan antara bunyi dan telinga, maka titah darurat dari Pangeran Pleret tersebut dalam kondisi darurat, dan alhamdulilah, dapat disebarluaskan dengan resmi dan dengan efek menular oleh Mindblasting Netlabel. Meskipun begitu, kami dengan hasrat yang meledak-ledak karena telah begitu mabuk oleh paket bebunyian ini, menyatakan sikap dan niat dengan mantap, untuk melakukan perbuatan mengulang, yang lebih jelasnya adalah, dengan resmi kami menyatakan bahwa kami ikut serta dalam persebaran bunyi yang dilahirkan oleh Pangeran Pleret. Kami tak ingin meraskaan rasanya telinga ini diiris, karena gundah dan kecewa akibat tidak ikut serta meracau sambil berkonfrontasi nyata dengan bunyi-bunyi yang dilahirkan oleh Pangeran Pleret. Kami mabuk cinta. Apapun yang terjadi kami akan melakukannya.

Berkata-kata, tentang proyek Pleretian ini, kalau boleh kami mundur beberapa langkah, tidak bisa kita melupakan proyek-proyek lain yang letaknya satu lingkar atau masuk dalam teritori nyata maupun maya yang ditebarkan oleh Kerajaan Pleret. Pleretian Sound. Kita tidak bisa begitu saja melupakan nama-nama seperti Asangata, Kalimasada, Slarong atau yang masuk dalam daftar rilisan kami yaitu Desperate Zebra. Kami tidak bisa cuek, dengan suatu ciptaan yang besar dan penuh misteri, karena penciptaan itu adalah perbuatan yang sangat Tuhani, bukan perbuatan main-main belaka, suatu karakter suara yang menemukan segenggam jati diri dengan sendirinya, sebagai dirinya sendiri, dengan bijak mengarung keluar dan pada waktu yang tepat memilih utnuk menghilang atau bersembunyi, bunyi-bunyi yang begitu merdeka dan memliki kehendak sendiri, yang ketika diciptakan akan terus seperti itu dan seperti itu, seperti suatu bangunan benteng yang di dalamnya terdapat kerajaan megah yang dijaga ribuan prajurit-prajurit yang setia, begitulah menurut kami keagungan dari Pleretian Sound. Pleretian Sound yang kami maksud, bukan berarti milik dari proyek bunyi solo milik dari Wednes Mandra ini, namun bunyi-bunyi milik proyek-proyek yang berada dalam satu lingkar atau yang pernah dan/atau masih disentuh oleh sang Pangeran. Proyek-proyek ini memiliki keagungan dan kebijaksanaanya sendiri, bunyi-bunyi yang membuat dan memiliki peradabannya sendiri, yang tidak mudah dikecoh oleh "lingkar-lingkar yang lain". Ya memang betul ketika orang-orang bicara jarang ada bunyi yang memang betul-betul orisinil dari awalnya, selalu saja ada kemungkinan bunyi yang dilahirkan tersebut adalah adaptasi, atau buah kreativitas yang dibangun di atas buah krativitas yang sudah ada sebelumnya. Namun, lain halnya dengan Pleretian Sound ini, jenis bunyi ini dengan tidak disiplin seperti hanya melewatkan begitu saja buah-buah kreativitas yang lain, mereka mendengarkanya, mereka mempedulikanya, namun berhenti disitu saja, yang dilakukan selanjutnya adalah mereka menyentuh perangkat apa saja yang bisa memberi mereka bantuan untuk melakukan pelepasan inderawi, yang kemudian dengan begitu bulat, mereka melakukan perbuatan yang belum tentu yang lain bisa, yaitu penciptaan. Mengerikan betul ya. Mohon maaf sebelumnya kalkau kami tidak atau malah mungkin sama sekali tidak berniat mengulas substansi dari persembahan ini, karena mungkin pembahasannya sudah bisa anda temui di situs Mindblasting Netlabel, dan juga di dalam file yang anda sekalian unduh, entah kenapa, kami begitu termabuk, dan terdorong untuk meracau mengenai keagungan perbuatan menciptakan yang diperbuat oleh civitas Kerajaan Pleret. Ya memang bisa jadi bunyi-bunyi itu sebenarnya sudah ada, kita saja yang tidak menemukan atau melahirkannya, karena penciptaan hanya bisa dilakukan oleh sang Tuhan. Namun kalau boleh kami bilang sekali lagi, kami tidak sedang menulis ataupun mengetik, dengan menggenggam pena atau melepaskan jemari untuk menari di atas keyboard, dan sekali lagi, Kotoran Telinga itu Baunya Harum Jenderal. Salam.

Pleretian adalah Wednes Mandra

1 comment:

  1. Pasca selesainya dari Semakbelukar, aku mulai jarang mendengar musik, tapi pleretian - moksa yang kudengar dari kanal youtube ini memberikan semacam getar dihati. Keren banget ini. Bagiku pleretian sungguh luar biasa, terbesit ingin buat semacam klip sederhana dengan musik yang berjudul moksa ini. Tapi, ide itu tak kunjung terealisasi. Hingga 2022, pleretian - moksa masih menjadi playlist dalam smartphone ku yang masih bertahan dari 2015. Kalian keren! Tabik!

    ReplyDelete